Sabtu, 24 Agustus 2013

Tantangan internal vs eksternal di Rahina Nyepi



Memasuki sasih kesanga, kita mulai disibukkan dengan berbagai hal untuk mempersiapkan rangkaian hari raya nyepi. Dihari tersebut khususnya bagi humat hindu merupakan Hari Raya yang sacral. Oleh karena itu, disetiap pelaksanaannya selalu disambut dengan antusias dari pelbagai kalangan baik itu anak-anak, remaja, maupun orang tua.
Sebagai salah satu  hari raya hindu yang telah diakui Negara, Nyepi merupakan Hari Raya yang semestinya mendapat pemahaman yang mendalam, dalam artian tidak hanya untuk dimengerti tetapi juga untuk dipahami  dan dihayati. 
Bagi seluruh umat hindu, setiap hari raya tak terkecuali hari raya Nyepi merupakan hari Raya Yang Suci. Tak hanya itu, datangnya Hari Raya Suci Juga dijadikan sebagai momen pendekatan diri  kepada-Nya. Hal tersebut merupakan hal pantas dan semestinya dilakukan, mengingat kita sebagai manusia sudah diciptakan, dilindungi ataupun dijaga oleh-Nya.
Dalam pelaksanaan Hari Raya Nyepi, terdapat beberapa kegiatan yang mengiringi jatuhnya hari raya yang berbahagia ini. Dimulai dari acara pengerupukan yang dilakukan dengan kegiatan mekiis, kemudian Nyepi dengan  kegiatan pengimplementasian catur berata penyepian, dan kegiatan ngembak geni yang dilakukan pada hari setelahnya.
Pengimplementasian catur berata penyepian salalu dijadikan metode disetiap hari raya nyepi itu datang. Ameti geni (tidak menghidupkan api), amati lelungan (tidak berpegian), ameti karya (tidak bekerja), dan ameti lelanguan (tidak melakukan aktivitas membisingkan) merupakan beberapa bagian dari catur berata penyepian.
Namun kini dalam pelaksanaannya, kian menghadapi berbagai tantangan tidak hanya dari lingkungan  internal tetapi juga lingkungan eksternal. Lingkungan internal disebut juga lingkungan yang berada atau berasal dalam tubuh manusia. Sedangkan lingkungan eksternal  diartikan sebagai lingkungan yang berasal dari luar tubuh manusia. Disisi lingkungan internal, sikap pengendalian diri perlu dijaga baik itu dari pengenadalian hawa nafsu maupun pengenadalian keinginan-keinginan yang etis dilakukan dihari biasa tetapi kurang etis dilakukan di hari raya nyepi kurang pantas dilakukan. Biasanya hal-hal tersebut seperti, merokok, bermain judi, bermain game, minum, hingga kompoy dijalanan. Hal tersebut menyirati kita bahwa, kebiasaan dan kebutuhan yang dihadapi selalu berkejaran dengan  tantangan yang ada. Artinya, semakin banyak aktivitas dan kebutuhan yang biasa dilakukan tantangan yang dihadapi dalam rahina nyepi kian banyak, begitu juga sebaliknya. Dilain sisi, lingkungan eksternal juga memberi variasi tantangan dalam rahina nyepi. Jika dalam situasi lingkungan internal kita melihat pengendalian hawa nafsu dan kebiasaan, tapi pada lingkungan eksternal kita dihadapkan dengan media yang selama ini kita butuhkan baik untuk keperluan komunikasi, informasi, media hiburan, dll.
Kedua hal tersebut memang layak digolongkan menjadi tantangan, karena keberadaannya  tidak hanya dapat menimbulkan pelbagai efek negatif tetapi juga pelbagai aktivitas yang dilakukan tersebut menyalahi ajaran catur berata penyepian. 
Melihat fenomena tersebut sangat penting terlebih lagi dapat menganggu rahina nyepi dan khalayak luas serta mengingat kita sebagai mahluk yang sempurna karena dibekali dengan idep (pikiran) seharusnya hal-hal yang kurang etis dilakukan tersebut dapat diminimalisir keberadaannya.  Tidak hanya melalui pengetahuan maupun pemahaman ajaran agama tantangan rahina nyepi dapat kita kendalikan tetapi juga harus diikuti dengan pikiran yang hening dan bukan hening hati.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar