Sabtu, 17 Agustus 2013

SEJARAH DESA BANYUNING

Asal mula nama Desa/Kelurahan Banyuning adalah Monaspathika, Monaspathika diambil dari bahasa Sansekerta yang terdiri dari kata Mona dan Spathika. Mona berarti diam/hening, Spathika berarti air. Jadi kata Monaspathika diartikan air yang hening/Banyuning. Desa Monaspathika sudah ada pada abad 13 dimana pada jaman itu masyarakat Monaspathika tebal keyakinannya terhadap adanya Polipos gaib yang ada pada pohon-pohon yang besar dan batu-batu yang besar maka dari itu dibangunlah Pura Pemaksanan yang sekarang diberi nama Pura Gede Pemayun. Disamping itu ada pula Pura Pemaksan yang lain seperti Pura Pemaksan Kangin, Pura pemaksan kauh yang diberi nama Pura Kerta. Lama-kelamaan begitu Mpu Kuturan dating ke Bali, berdirilah Pura Kayangan Tiga di antaranya: Pura Desa/Bale Agung, Pura Dalem, dan Pura Segara. Kemudian Dalem Shili menyerahkan prasasti Raja Purana kepada bendesa Monaspathika di mana prasasti/Raja Purana terebut ditempatkan di Pura Pemaksan Kauh (Pura Kerta) dan lama kelamaan Desa Monaspathika semakin menyempit dan bagian baratnya semakin utuh. Dan bagian lainnya yaitu:
  • Sebelah utaranya disebut subak kayu pas karena orang minum air dikedat rawa-rawa membuat orang mati yang airnya mengandung racun yang diakibatkan dari pohon-pohon yang tumbuh disitu dari itulah tempat tersebut disebut Subak Kayu Pas.
  • Sebelah selatannya subak padangkeling yang ceritanya ada orang kalingga tidak cocok dengan raja Monaspathika tentang awig-awig dan dia menyingkir keselatan buat pondok-pondok disebut Desa Padangkeling
  • Sebelah timurnya subak kayu jati disebut subak jati karena disana ada pohon-pohon jadi banyak yang ditebang oleh orang-orang Bebetin dan buat pondok disana disebut Kubujati dan subaknya disebut Subak Jati.
  • Sebelah timurnya tukad buus dibuat sawah diberi nama Subak Banyuning. Jadi seseungguhnya Monaspathika menurut Pof. Berandes orang Belanda orang Belanda tahun 1868 artinya Monaspathika: Mona = Ning, Spatika yaitu berkilau, berobat sama dengan Yeh (yeh ning) dan disebut Banyuning. Kemudian Banyuning menganut penyepian khusus yaitu pada bulan September sasih ke tiga dengan hal membuat pecaruan yang dilaksanakan pada waktu matahari berada nol derajat itu didasari penduduk Banyuning pada waktu itu kena wabah penyakit serta ditambah melakukan penyepian umum (penyepian umat hindu).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar