Sabtu, 31 Agustus 2013

DIBALIK MAKNA RITUAL PENAMPAHAN



Rahina Galungan kian menghitung hari, sehingga untuk menyambut hari kemenangan dharma melawan adarma “Galungan” tak jarang banyak orang yang mempersiapkan pelbagai hal baik secara rohaniah maupun jasmaniah.
Salah satu ritual yang tak terpisahkan dalam menyambut hari yang suci ini adalah Penampahan. Penampahan selalu mengiringi hari raya Galungan sehari sebelum hari raya tersebut dilaksanakan. Dalam acara tersebut setiap humat hindu selalu melakukan ritual “nampah” (potong) hewan untuk selanjutnya digunakan sebagai sarana upakara.
Ketika rahina penampahan tiba, kita akan  banyak sekali menemukan jenis makanan yang dibuat tidak hanya didesa tapi juga diperumahan seperti halnya lawar, komoh, urutan, sate, ares, dan masih banyak lagi variasi makanan yang dibuat. Sehingga acara ini tak jarang dijuki “ajangnya memasak”.
Sebenarnya, tanpa mengurangi hormat penulis dan juga tanpa maksud untuk menggurui pembaca, ritual penampahan terkandung makna yang lebih dalam lagi selain hanya kegiatan memasak yakni pemotongan sikap hewaniah seperti marah, malas, iri, dengki, dan masih banyak lagi yang digolongkan sikap hewaniah. Sehingga harapan nanti melalui pemahaman yang mendalam akan ritual ini, sikap hewaniah ini dapat diminimalisir maupun dikendalikan guna menjaga rasa aman dan tentram  tidak hanya dalam melaksanakan Rahina Galungan tetapi juga berkehidupan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar