Rabu, 03 April 2013

Petani butuh Sinerji antara Modernisasi dan Wirausaha



Di era globalisasi saat ini kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan kegiatan perekonomian dunia mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal tersebut mendorong, transaksi jual-beli yang dilakukan antara produsen dan konsumen menjadi lebih luas (global) yakni tidak hanya terjadi dalam pasar domestik, tetapi juga dalam pasar internasional.
Bali merupakan salah satu daerah yang terkenal dengan budaya dan pariwisatanya. Tetapi hal tersebut akhirnya meluas seiring meningkatnya kemajuan ini yang ditunjang oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih modern serta perkembangan dalam segala bidang,  termasuk bidang pertanian. Penggunaan teknologi modern dan bibit unggul masih menjadi kunci suskses petani Bali dalam persaingan dikancah yang global.
Pada dasarnya sebagian besar pertanian yang ada di Bali pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya hanya mengandalkan keadaan alam saja dalam memasarkan hasil pertaniannya tanpa melakukan suatu inovasi. Hal ini terjadi sejalan dengan persepsi mereka yang mudah merasa puas dengan apa yang disediakan oleh alam, dalam artian mereka menerima atau merasa cukup dengan apa yang bisa mereka peroleh dari alam, tanpa merasa perlu menambah upaya untuk meningkatkan penghasilan.
Melihat hal tersebut sangat penting, dan terlebih lagi terdapat banyak pasar pesaing yang tersedia tidak hanya dengan kualitas yang lebih bagus tetapi juga dengan kuantitas yang lebih banyak maka baik petani dan pemerintah perlu membuat suatu strategi atau formula yang tepat guna dalam upaya peningkatan produktivitas pertanian dan nilai produk. Salah satu metode yang tepat untuk meminimalisir masalah tersebut yaitu melalui sinerji moderinasi petani dan wirausaha.
Modernisasi petani mengarah pada suatu proses perubahan dari corak kehidupan masyarakat petani, kebiasaan dan budaya petani yang “konvensional” (tradisional) menjadi “modern”, terutama berkaitan dengan teknologi dan organisasi sosial. Melalui hal ini diharapkan petani Bali tidak hanya dapat mengefisienkan waktu pengelolaan dan produksi, meningkatan nilai produk (harga produk), tetapi juga dapat memimalisir biaya produksi dan tenaga kerja.
Sementara wirausaha mengarah pada pembuatan dan pengelolaan produk yang memiliki nilai lebih dari produk semula. Melalui kegiatan wirausaha, petani Bali diharapkan mampu berinovasi untuk membuat produk-produk baru yang memiliki daya jual tinggi dibandingkan menjual secara langsung hasil pertanian yang diperoleh.
Sehingga melalui sinerji modernisasi dan wirausaha ini, nantinya tidak hanya dapat meningkatkan produktivitas petani tetapi pula dapat membuka kesempatan kerja (lowongan pekerjaan) bagi orang-orang yang belum memiliki pekerjaan (pengguran) yang selama ini menjadi masalah ekonomi di Indonesia.

        

I Gede Ari Sucipta Yasa
Mahasiswa  Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar