Rabu, 03 April 2013

Me-Galungan harus diikuti dengan Yadnya



Memasuki wuku Dungulan, kita mulai disibukkan dengan pelbagai hal untuk mempersiapkan rangkaian hari raya Galungan. Dihari tersebut khususnya bagi humat hindu merupakan Hari Raya yang suci dan sakral. Oleh karena itu, disetiap pelaksanaannya selalu disambut dengan antusias dari pelbagai kalangan baik itu anak-anak, remaja, maupun orang tua.
Bagi seluruh umat hindu, setiap hari raya tak terkecuali hari raya Galungan merupakan hari Raya yang Suci. Tak hanya itu, datangnya Hari Raya Suci juga dijadikan sebagai momen pendekatan diri  kepada-Nya. Hal tersebut merupakan hal pantas dan semestinya dilakukan, mengingat kita sebagai manusia sudah diciptakan, dilindungi ataupun dijaga oleh-Nya.
Dalam pelaksanaan hari raya Galungan, terdapat beberapa kegiatan yang mengiringi jatuhnya hari raya yang berbahagia ini. Dimulai dari acara Penyajaan yang dilakukan dengan kegiatan membuat “jaje” (kue) sebagai sarana pelengkap upakara biasanya diiringi dengan pemasangan penjor, kemudian acara Penampahan dengan  kegiatan  “nampah” memotong hewan juga sebagai sarana pelengkap upakara dan keesokan harinya merupakan Rahina Galungan (hari kemenangan dharma melawan adharma).
Sebagai salah satu  hari raya hindu yang suci, hari raya Galungan semestinya mendapat pemahaman yang mendalam bagi seluruh umat yang merayakan, dalam artian tidak hanya untuk dimengerti tetapi juga untuk dipahami  dan dihayati serta diikuti dengan mengimplementasikan ajaran yadnya disetiap perayaannya. 
Istilah yadnya tersebut merupakan korban suci yang tulus dan iklas. Yang mana korban suci merupakan persembahan yang bersifat suci baik secara jasmaniah maupun rohaniah. Sedangkan istilah tulus dan iklas merupakan suatu sikap yang didasari oleh hati yang suci tanpa pambrih.
Melihat makna ajaran yadnya sangat penting tak hanya bagi umat yang merayakan tetapi juga bagi seluruh umat didunia, maka dari itu merupakan hal yang wajarlah jika ajaran yadnya ini dijadikan acuan dalam pelaksanaan rahina Galungan ini.
Namun kini dalam pelaksanaannya, kian menghadapi berbagai tantangan tidak hanya dari lingkungan  internal tetapi juga lingkungan eksternal. Lingkungan internal disebut juga lingkungan yang berada atau berasal dalam tubuh manusia. Sedangkan lingkungan eksternal  diartikan sebagai lingkungan yang berasal dari luar tubuh manusia. Disisi lingkungan internal, sikap pengendalian diri perlu dijaga baik itu dari pengenadalian hawa nafsu maupun pengenadalian keinginan-keinginan yang berlebihan (diluar jangkauan). Biasanya hal-hal tersebut bisa menimbulkan kegiatan yang negatif seperti: konsumenrisme yang tinggi, mencuri, bahkan kegiatan berhutang. Dilain sisi, lingkungan eksternal juga memberi variasi tantangan dalam rahina Galungan. Jika dalam situasi lingkungan internal kita melihat pengendalian hawa nafsu dan keinginan yang berlebih, tapi pada lingkungan eksternal kita dihadapkan dengan media yang selama ini kita butuhkan baik untuk keperluan komunikasi, informasi, media hiburan, dll.
Kedua hal tersebut memang layak digolongkan menjadi tantangan, karena keberadaannya  tidak hanya dapat menimbulkan pelbagai efek negatif tetapi juga pelbagai aktivitas yang dilakukan tersebut dapat mengganggu umat disekitarnya.
Melihat fenomena tersebut sangat penting terlebih lagi dapat menganggu rahina Galungan dan khalayak luas serta mengingat kita sebagai mahluk yang sempurna karena dibekali dengan idep (pikiran) seharusnya hal-hal yang kurang etis dilakukan tersebut dapat diminimalisir keberadaannya.  Apalagi ajaran yadnya menyiratkan kita mengenai ajaran tulus dan iklas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar