Tampilkan postingan dengan label METODELOGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label METODELOGI. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 November 2013

VARIABEL PENELITIAN DAN PENGUKURANNYA

Pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. (Sugiyono, 2007).
 Secara Teoritis, para ahli telah mendefinisikan Variable sebagai berikut : Hatch & Farhady (1981) Variable didefinisikan sebagai Atribut seseorang atau obyek yang mempunyai variasi antara satu orang dengan yang lain atau satu obyek dengan obyek yang lain. 
Kerlinger (1973)
  1.  Variable adalah konstruk (constructs) atau sifat yang akan dipelajari.
    Misalnya : tingkat aspirasi, penghasilan, pendidikan, status social, jenis kelamin, golongan gaji, produktifitas kerja, dll.
  2.  Variable dapat dikatakan sebagai suatu sifat yang diambil dari suatu nilai yang berbeda (different values).
Kidder (1981) Variable adalah suatu kualitas qualities) dimana peneliti mempelajari dan menarik kesimpulan darinya.
Bhisma Murti (1996) Variable didefinisikan sebagai fenomena yang mempunyai variasi nilai. Variasi nilai itu bisa diukur secara kualitatif atau kuantitatif. 
Dr. Ahmad Watik Pratiknya (2007)
Variable adalah Konsep yang mempunyai variabilitas. Sedangkan Konsep adalah penggambaran atau abstraksi dari suatu fenomena tertentu. Konsep yang berupa apapun, asal mempunyai ciri yang bervariasi, maka dapat disebut sebagai variable.
Dengan demikian, variable dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang bervariasi.

Berdasarkan hal tersebut maka variabel merupakan suatu konstruk yang ditetapkan oleh peneliti baik atribut/sifat/nilai dari orang/obyek/kegiatan yang mempunyai variasi nilai untuk kemudian ditarik kesimpulannya.

MACAM-MACAM VARIABEL
Jika suatu variabel dikaitkan (dihubungkan) dengan variabel lain sampai terbentuk suatu model, maka variabel akan mempunyai bermacam-macam bentuk. Yang umum dipakai adalah variabel independen (bebas) dan dependen, variabel kontrol, variabel moderating, dan variabel intervening (Sugiyono 2007).
a. Variabel Independen dan Dependen
Variabel independen (bebas) adalah variabel yang menjelaskan atau mempengaruhi variabel yang lain. Variabel dependen (tergantung) adalah variabel yang dijelaskan atau dipengaruhi oleh variabel independen.
Variabel independen juga disebut sebagai variabel yang mendahului (antecedent variable). Variabel dependen disebut juga sebagai variabel konsekuensi (consequent variable). Sesuai dengan fenomena sosial yang dijelaskan, bentuk hubungan antara variabel independen dan dependen dapat bersifat positif atau negative.
b. Variabel Kontrol
     Jika suatu variabel bebas yang mempengaruhi variabel tidak bebas diberi suatu perlakuan / dikendalikan secara langsung oleh periset, maka variabel ini menjadi sebuah variabel kontrol. Jadi variabel kontrol merupakan variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga pengaruh variabel independent terhadap dependen tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak diteliti. Variabel kontrol sering digunakan bila peneliti akan melakukan penelitian yang bersifat membandingkan.
c. Variabel Moderating
Adalah variabel yang mempengaruhi (memperkuat atau memperlemah) hubungan antara variabel independent dengan dependen. Variabel ini juga dapat mengubah nilai hubungan dari positif ke negatif atau sebaliknya. Variabel ini sering disebut sebagai variabel dependen kedua.
d. Variabel Intervening
     Adalah variabel yang mempengaruhi hubungan langsung antara variabel independent dan dependen, sehingga terjadi hubungan yang tidak langsung. Artinya, variabel intervening merupakan variabel yang secara teoretis mempengaruhi (memperkuat dan memperlemah) hubungan antara variabel independen dan dependen, tetapi tidak dapat diamati dan diukur.


PENGUKURAN VARIABEL
Pengukuran variabel dapat diklasifikasikan menjadi 2 kelompok, yaitu : varibel diskrit (discrete) dan, variabel kontinum (continous) .
1. Variabel diskrit sering juga disebut variabel nominal atau variabel katagorik. Variabel jenis ini hanya diukur berdasarkan 2 kutub nilai yang berlawanan, misal “baik” dan “buruk”, atau “ya” dan “tidak”, atau “pria” dan “wanita”.  Jika dikaitkan dengan model analisis data, variabel diskrit juga sering disebut sebagai variabel “ dummy”.
2. Variabel kontinum, adalah variabel yang dapat diukur dengan nilai yang lebih bervariasi dibanding dengan diskrit. Dalam hal ini pengukuran variabel kontinum dapat dibedakan dalam tiga skala pengukuran yaitu ordinal, interval dan rasio.

    1. Skala Ordinal adalah skala yang memungkinkan peneliti membagi obyek yang diteliti berdasarkan urutan tertentu. Misal berdasarkan tinggi badan, obyek yang diteliti dikelompokkan menjadi kelompok badan tinggi, kelompok badan sedang, kelompok badan pendek. Contoh lain, misal mengukur “kecerdasan” mahasiswa. Dalam hal ini mahasiswa dapat dikelompokkan menurut urutan kecerdasannya, yaitu cerdas, cukup cerdas, kurang cerdas dan tidak cerdas.
    2. Skala interval adalah skala yang memungkinkan peneliti untuk mengukur jarak dari suatu nilai, dan jarak tersebut dapat diketahui dengan pasti sehingga  memungkinkan dilakukannya kalkulasi aritmatik, misal dapat dihitung nilai rata-ratanya (mean) dan nilai standar deviasi.  Misal mengukur perbedaan suhu tubuh orang yang sehat dengan orang yang sakit demam karena tipus. Jika orang sehat 36 derajat Celcius dan yang sakit 40 derajat Celsius, maka  beda suhu tubuh orang sehat dan sakit adalah 4 derajat Celsius. Jadi dalam hal ini hanya melihat jarak (interval) dari suatu nilai. Bedanya dengan skala ordinal adalah pada skala ordinal jarak suatu nilai tidak dapat diukur dengan pasti. Misal Fulan lebih pandai dari Toni, dalam hal ini perbedaan kepandaiannya tidak diukur dengan pasti.
    3. Skala rasio adalah skala pengukuran yang memungkinkan peneliti melakukan  kalkulasi arimetik secara tepat, dan skala ukuran dapat dimulai dari angka nol. Misal, laba  perusahaan  Rp. 1 juta, aktiva lancar Rp. 500.000, rasio lancar (current ratio) 1,5.
 
DAFTAR PUSTAKA 
Ahmad W. Pratiknya (2007). Dasar – Dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan, Jakarta, Raja Grafindo Persada
Bhisma Murti (1996). Penerapan Metode Statistik Non Parametrik dalam Ilmu – ilmu Kesehatan, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama.  
Notoatmodjo, Soekidjo (2002). Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta, Rineka Cipta
Sugiyono (2007). Statistik untuk Penelitian, Jakarta, Alfabeta.

Rabu, 28 Agustus 2013

SELAYANG PANDANG PROPOSAL (SEBUAH KAJIAN TEORITIS)

A. PENGERTIAN PROPOSAL
Kata proposal pada dasarnya berasal dari bahasa inggris yakni to propose yang artinya mengajukan. Berdasarkan hal tersebut terdapat beberapa tokoh yang menyatakan pengertian proposal sebagai berikut. Hariwijaya dalam Happy Susanto (2010: 1) menyatakan bahwa proposal ialah suatu bentuk pengajuan penawaran, baik berupa ide, gagasan, dan pemikiran, maupun rencana kepada pihak lain untuk mendapatkan dukungan, izin, persetujuan, dana dan lain sebagainya. 
Selain hal tersebut Nindy (2011) menyatakan bahwa proposal ada juga yang menyatakan suatu rencana kerja yang disusun secara sistematis dan terinci untuk suatu kegiatan yang bersifat formal . Proposal adalah suatu usulan kegiatan perlu dukungan atau persetujuan pihak lain. Proposal adalah suatu bentuk rancangan kegiatan yang dibuat dalam bentuk formal dan standar. 
 Dalam dunia ilmiah, proposal adalah suatu rancangan desain penelitian (usulan penelitian) yang akan dilakukan oleh seorang peneliti tentang obyek penelitian. Bentuk “Proposal Penelitian” ini, biasanya memiliki suatu bentuk, dengan berbagai standar tertentu seperti penggunaan bahasa, tanda baca, kutipan, dan kaedah-kaedah lain. 
Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa proposal merupakan suatu rancangan yang dibuat secara sistematis dan terstruktur dalam bentuk pengajuan penawaran, baik berupa ide, gagasan, dan pemikiran, maupun rencana kepada pihak lain dengan menggunakan bahasa yang benar dan baku untuk mendapatkan dukungan, izin, persetujuan, dan dana dalam rangka mencapai apa yang hendak direncanakan.

B.JENIS-JENIS PROPOSAL
Berdasarkan bentuknya, proposal dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu: proposal berbentuk formal, semiformal, dan nonformal Nindy (2011). Proposal berbentuk formal terdiri atas tiga bagian utama, yaitu: 1) bagian pendahuluan, yang terdiri atas: sampul dan halaman judul, surat pengantar (kata pengantar), ikhtisar, daftar isi, dan pengesahan permohonan; 2) isi proposal, terdiri atas: latar belakang, pembatasan masalah, tujuan, ruang lingkup, pemikiran dasar (anggapan dasar), metodologi, fasilitas, personalia (susunan panitia), keuntungan dan kerugian, waktu, dan biaya; 3) bagian pelengkap penutup, yang berisi daftar pustaka, lampiran, tabel, dan sebagainya. Proposal semiformal dan nonformal merupakan variasi atau bentuk lain dari bentuk proposal formal karena tidak memenuhi syarat-syarat tertentu atau tidak selengkap seperti proposal bentuk formal.

C. KOMPONEN PROPOSAL
Secara umum terdapat hal-hal yang perlu dimuat dalam proposal antara lain sebagai berikut.
1. Nama identitas
2. Latar belakang
3. Rumusan Masalah
4. Tujuan
5. Bentuk/jenis kegiatan (Berisikan Teori-teori jika Proposalnya berjenis Proposal Ilmiah)
6. Metode Pelaksanaan
7. Panitia pelaksana (terlampir)
8. Biaya/dana (rincian terlampir)
9. Harapan
10. Lampiran

Selain hal tersebut, Louis Marvin  (2010) menjabarkanu nsur-unsur Isi Proposal dan Keterkaitannya
Secara umum, isi proposal penelitian meliputi.unsur-unsur sebagai berikut:
  1. Judul
  2. Latar belakang & perumusan permasalahan (& keaslian penelitian, dan faedah yang dapat diharapkan)
  3. Tujuan dan Lingkup penelitian
  4. Tinjauan Pustaka
  5. Landasan Teori
  6. Hipotesis
  7. Cara penelitian
  8. Jadwal penelitian
  9. Daftar Pustaka
  10. Lampiran
Hal-hal tersebut lebih lanjut dijabarkan sebagai berikut.
Judul proposal penelitian
Judul merupakan gerbang pertama seseorang membaca sebuah proposal penelitian. karena merupakan gerbang pertama, maka judul proposal penelitian perlu dapat menarik minat orang lain untuk membaca. Judul perlu singkat tapi bermakna dan tentu saja harus jelas terkait dengan isinya.
Latar belakang
Dua pertanyaan perlu dijawab dalam rangka mengisi bagian latar belakang ini, yaitu: Mengapa kita memilih permasalahan ini? Apakah ada opini independen yang menunjang diperlukannya penelitian ini? Untuk menjawab pertanyaan “mengapa kita memilih permasalahan ini?”, maka langkah pertama, kita perlu memilih bidang keilmuan yang kita ingin lakukan penelitiannya. Pemilihan bidang tersebut diteruskan ke sub-bidang dan seterusnya hingga sampai pada topik tertentu yang kita minati. Langkah kedua, kita perlu melakukan kajian terhadap pustaka berkaitan .kemajuan terakhir ilmu pengetahuan dalam topik tersebut—untuk mencari peluang pengembangan atau pemantapan teori. Minar maupun peluang tersebut seringkali didorong oleh isu nyata dan aktual—yang muncul di jurnal ilmiah terbaru atau artikel koran bermutu atau pidato penting dan aktual, atau direkomendasikan oleh penelitian sebelumnya.. Ini semua merupakan opini independen yang menunjang diperlukannya penelitian yang diusulkan tersebut.

Rumusan pe rmasalahan
Rumusan permasalahan perlu dituliskan secara singkat, jelas, mudah dipahami dan mudah dipertahankan. Rumusan yang tersamar terkandung dalam alinea tidak diharapkan karena memaksa pembaca untuk mencari sendiri dan menginterpretasikan sendiri bagianbagian dari alinea atau kalimat-kalaimat yang bersifat rumusan permasalahan. Tuliskanlah rumusan permasalahan sebagai kalimat terakhir dari bagian ini agar mudah dibaca (dan mudah dicari)—bahasan lebih panjang lebar tentang cara-cara merumuskan permasalahan termuat di bab tersendiri.

Keaslian penelitian
Dalam bagian ini, pada dasarnya, perlu kita tunjukkan (dengan dasar kajian pustaka) bahwa permasalahan yang akan kita teliti belum pernah diteliti sebelumnya. Tapi bila sudah pernah diteliti, maka perlu kita tunjukkan bahwa teori yang ada belum mantap dan perlu diuji kembali. Kondisi sebaliknya juga berlaku, yaitu bila permasalahan tersebut sudah pernah diteliti dan teori yang ada telah dianggap mantap, maka kita perlu mengganti permasalahan (dalam arti: mencari judul lain).

Faedah yang diharapkan
Dalam bagian ini perlu ditunjukkan manfaat atau faedah yang diharapkan dari penelitian ini untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan atau pembangunan negara. Manfaat bagi ilmu pengetahuan dapat berupa penemuan/pengembangan teori baru atau pemantapan teori yang telah ada. Bagi pembangunan negara, apakah hasil penelitian ini dapat diterapkan langsung ke praktek nyata? atau bila tidak langsung, jalur atau batu-batu loncatannya apa saja?

Tujuan dan Lingkup Penelitian
Tujuan penelitian berkaitan dengan kedudukan permasalahan penelitian dalam khazanah ilmu pengetahuan (yang tercermin dalam tinjauan pustaka). Kedudukan permasalahan—dilihat dari pandangan tertentu—mempunyai lima macam kemungkinan, yaitu; ekplorasi (masih “meraba-raba”), deskripsi (menjelaskan lebih lanjut), eksplanasi (mengkonfirmasikan teori), prediksi (menjelaskan hubungan sebab-akibat), dan aksi (aplikasi ke tindakan). Pandangan yang lain (Castetter dan Heisler, 1984: 9) membedakan tujuan penelitian (purpose of study) menjadi sembilan, yaitu: 1) mengkaji (examine), mendeskripsikan (describe), atau menjelaskan (explain) suatu fenomena unik; 2) meluaskan generalisasi suatu temuan tertentu; 3) menguji validitas suatu teori; 4) menutup kesenjangan antar teori (penjelasan, explanasions) yang ada; 5) memberikan penjelasan terhadap bukti-bukti yang bertentangan; 6) memperbaiki metodologi yang keliru; 7) memperbaiki interpretasi yang keliru; mengatasi kesulitan dalam praktek; 9) memperbarui informasi, mengembangkan bukti longitudinal (dari masa ke masa). Seringkali untuk mencapai tujuan memerlukan waktu yang “terlalu” lama atau memerlukan tenaga yang “terlalu” besar. Agar penelitian dapat dikelola dengan baik, maka perlu dilakukan pembatasan terhadap pencapaian tujuan. Pembatasan tersebut dilakukan dengan membatasi lingkup penelitian. Pernyataan batasan lingkup ini juga berfungsi untuk lebih mempertajam rumusan permasalahan.

Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka memuat uraian sistematis dan bersifat diskusi tentang hasil-hasil penelitian sebelumnya dan terkait serta ilmu pengetahuan mutakhir (berupa pustaka) yang terkait dengan permasalahan. Tinjauan pustaka berbeda dengan resensi pustaka. Resensi pustaka membahas pustaka satu demi satu, sedangkan tinjauan pustaka membahas pustaka-pustaka per topik (bukan per pustaka), dalam bentuk debat atau diskusi antar pustaka tentang suatu topik tertentu. Urutan topik diatur secara sitematis, dalam arti terdapat suatu kerangka yang jelas dalam merangkai topik-topik tersebut dalam suatu sistem.
Menurut Castetter dan Heisler (1984), tinjauan pustaka berfungsi: 1) untuk mempelajari sejarah permasalahan penelitian (sehingga dapat ditunjukkan bahwa permasalahan tersebut belum pernah diteliti atau bila sudah pernah, teori yang ada belum mantap); 2) untuk membantu pemilihan cara penelitian (dengan belajar dari pengalaman penelitian sebelumnya); 3) untuk memahami kerangka atau latar belakang teoritis dari permasalahan yang diteliti (hasil pemahaman tersebut dituliskan tersendiri sebagai “Landasan Teori”); 4) untuk memahami kelebihan atau kekurangan studi-studi terdahulu (tidak semua penelitian menghasilkan temuan yang mantap); 5) untuk menghindarkan duplikasi yang tidak perlu (hasil fungsi ini dituliskan sebagai “Keaslian penelitian”); 6) untuk memberi penalaran atau alasan pemilihan permasalahan (hasil fungsi ini dituliskan sebagai “latar belakang”).

Catatan: Pustaka-pustaka yang diacu dalam tinjauan pustaka harus termuat informasinya dalam “Daftar Pustaka”. Cara pengacuan secara konsisten perlu mengikuti corak (style) tertentu.yang dianjurkan dalam pedoman penulisan tesis atau proposal penelitian.

Landasan Teori dan Hipotesis
Seperti diterangkan di bagian “Tinjauan Pustaka”, landasan teori diangkat (disarikan) dari tinjauan pustaka tentang kerangka teori yang melatarbelakangi (menjadi landasan) bagi permasalahan yang diteliti. Landasan teori merupakan satu set teori yang dipilih oleh peneliti sebagai tuntunan untuk mengerjakan penelitian lebih lanjut dan juga termasuk untuk menulis hipotesis. Landasan teori dapat berbentuk uraian kualitatif, model matematis, atau persamaan-persamaan. Catatan: untuk beberapa macam penelitian (missal penelitian yang berbasis paradigma fenomenologi) tidak boleh atau tidak perlu mempunyai landasan teori dan hipotesis..
Hipotesis memuat pernyataan singkat yang disimpulkan dari landasan teori atau tinjauan pustaka dan merupakan jawaban sementara (dugaan) terhadap permasalahan yang diteliti. Karena diangkat dari landasan teori, maka hipotesis merupakan “kesimpulan teoritik” (hasil perenungan teoritis) yang perlu diuji dengan kenyataan empirik. Hipotesis masih perlu diuji kebenarannya, maka isi hipotesis harus bersifat dapat diuji atau dapat dikonformasikan.
Menurut Borg dan Gall (dalam Arikunto, 1998: 70), penulisan hipotesis perlu mengikuti persayaratan sebagai berikut:
a) dirumuskan secara singkat tapi jelas;
b) dengan nyata menunjukkan adanya hubungan antara dua variabel atau lebih;
c) didukung oleh teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli atau peneliti yang terkait (tercantum dalam landasan teori atau tinjauan pustaka).

Cara Penelitian dan Jadwal Penelitian
Secara umum, dalam cara penelitian perlu dijelaskan:
1) ragam penelitian yang dianut (Amirin, 1986: 89, menyebutkannya sebagai “corak”
1) penelitian)—lihat bab “Ragam Penelitian”;
2) variabel-variabel yang diteliti;
3) sumber data (tempat variabel berada; populasi dan sampelnya);
4) instrumen atau alat yang dipakai dalam pengumpulan data/survei (termasuk antara lain: kuesioner);
5) cara pengumpulan data atau survei;
6) cara pengolahan dan analisis data.
Butir ke 5 dan 6 di atas juga dicerminkan dalam bentuk jadwal penelitian. Jadwal penelitian menguraikan kegiatan dan waktu yang direncanakan dalam: (a) tahap-tahap penelitian, (b) rincian kegiatan pada setiap tahap, dan (c) waktu yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan tiap tahap. Jadwal dapat dipresentasikan dalam bentuk tabel/matriks atau uraian narasi.

Daftar Pustaka dan Lampiran
Daftar Pustaka memuat informasi pustaka-pustaka yang diacu dalam proposal penelitian. Kadangkala untuk menunjukkan bahwa peneliti membaca banyak pustaka, maka dalam daftar pustaka dituliskan juga pustaka-pustaka yang nyatanya tidak diacu dalam narasi proposal. Hal ini tidak dianjurkan untuk dilakukan, karena sudah umum bahwa peneliti tentu membaca banyak pustaka dalam rangka penelitiannya. Dalam daftar pustaka, biasanya, buku dan majalah tidak dipisahkan dalam daftar sendiri-sendiri. Untuk penulisan daftar pustaka terdapat banyak corak tata penulisan— ikutilah petunjuk yang berlaku dan terapkan corak tersebut secara konsisten.

Lampiran dapat diisi dengan materi yang “kurang penting” dalam arti “boleh dibaca atau tidak dibaca”. Biasanya lampiran memuat antara lain: kuesioner dan daftar sumber data yang akan dikunjungi atau diambil datanya. Sebaiknya jumlah halaman lampiran tidak terlalu banyak agar tidak terasa lebih penting dibanding dengan isi utamanya.

Hubungan antara Proposal dan Laporan Penelitian
Penyusunan proposal sebenarnya merupakan kegiatan yang menerus, meskipun pada saat yang telah ditetapkan kita harus memasukkan proposal untuk dievaluasi. Proposal yang telah selesai dievaluasi dan diterima untuk dilaksanakan tetap harus dikembangkan penulisannya. 

DAFTAR PUSTAKA
Happy Susanto. 2010. Panduan Lengkap Menyusun Proposal. Jakarta: Transmedia Pustaka

Louis Marvin. 2010. Pengertian Proposal.  Terdapat dalam http://louismarvin.blogspot.com/2010/06/pengertian-proposal.html

Nindy. 2011. Pengertian Proposal. Terdapat dalam http://nindiyahpuspitasari.blogspot.com/2011/04/pengertian-proposal.html.