SEJARAH DESA BUGBUG
Menurut cerita orang-orang tua balk di Desa
Bugbug, Bebandem, Jasri maupun Ngis, menceritakan bahwa dahulu kala pada
sekitar abad permulaan tahun masehi datanglah seorang Brahmana yang
bernama Ida Gede dari Jawa ke Bali dan menginjakkan kaki pertama kali di
sebelah Barat Daya Bukit Gumang yang sekarang bernama Nyuh Awit (Njung
Ngawit) atau tanjung tempat menginjakkan kaki yang pertama.
Kemudian
beliau menuju sebuah bukit di sebelah barat yaitu di atas Bukit Gundul,
tetapi beliau tidak dapat melihat Pura Besakih dari sana. Lalu Beliau
terus menelusuri bukit ke arah Timur Laut hingga sampai di Bukit
Pajinengan, tetapi dari atas bukit inipun Beliau tidak dapat melihat
Pura Besakih. Akhirnya Beliau menuju puncak Bukit Gumang, dan dari
tempat ini ternyata Pura Besakih dengan sinarnya yang cemerlang dapat
dilihat oleh Beliau. Di tempat inilah Beliau menetap bersama Istri dan
Putra-Putri-Nya, lalu membuat pasraman sederhana dalam bentuk Bangunan
Gaduh yaitu bale-bale bertiang kayu dan beratap ijuk. Pada waktu itu
Bukit Gumang hutannya masih lebat dan ada pula sumber mata air di sana.
Dari tempat ini Beliau melaksanakan YogaSemadi untuk kesejahteraan dunia
ini. Selain melaksanakan Yoga-Semadi Beliau juga mendalami dan
melaksanakan Usadha ( pengobatan) untuk membantu penduduk yang ada di
desa-desa di kaki Bukit Gumang. Setiap hari Beliau mengunjungi
gubuk-gubuk penduduk di kaki Timur Bukit Gumang yang ada pada waktu itu
bernama pradesa Sabuni, juga desa sebelah utaranya bernama Belong dan
desa paling utara yang bernama Lumpadang. Pada waktu itu desa Bugbug
yang sekarang belum ada karena masih berupa tanah rawa-rawa yang becek
(buwug).
Dalam kurun waktu puluhan tahun Beliau menetap di Bukit
Gumang, Beliau juga mengajarkan pada penduduk desa tentang cara-cara
bertani, memperkenalkan cangkul, tenggala (bajak) membuat alat-alat
rumah tangga seperti pisau sabit, tombak, kampak, dan lain sebagainya.
Beliau mengajarkan penduduk untuk membuat alat-alat tersebut bertempat
disebuah tempat yang disebut "Pasujan" Untuk itu sampai saat ini masih
berdiri tegak "Pura Pande".
Beliau sangat dihormati dan dicintai oleh
segenap penduduk yang berada di sekitar Bukit Gumang. Atas jasa-jasa
Beliau banyak penduduk lakiperempuan yang mendapat pengetahuan tentang
bertani seperti : menanam
ketela, jagung, kacang-kacangan, kelapa
serta buah-buahan lainnya, tak tertinggal tentang cara menanam padi gogo
karena pada waktu itu belum ada aliran sungai yang melewati pemukiman
penduduk, sehingga penduduk hanya bisa berladang dan berkebun. Untuk
jasa Beliau itu semua penduduk dengan tutus ikhlas dan rela disertai
rasa Bakti menghaturkan pada Beliau berbagai hasil pertaniannya seperti
pisang, buah-buahan, jagung, labu, kelapa, dan malah ada yang
menghaturkan nasi yang baru matang. Juga Beliau mengajarkan penduduk
beternak seperti : sapi, kambing, kerbau, ayam dan sebagainya. Karena
banyak dari penduduk menghaturkan anak sapinya pada Beliau, maka Beliau
menyuruh melepas saja sapi-sapi itu disekitar Pasraman. Sapi-sapi ini
kemudian menjadi banyak yang oleh penduduk dikenal dengan sebutan "Sampi
Gamang" sayang sapi yang banyak itu kemudian pada jaman Belanda dan
berlanjut pada jaman revolusi kemerdekaan dan setelah kemerdekaan banyak
ditembak oleh pejabat atau aparat pemerintah untuk pesta-pesta dan ini
oleh Kepala Desa waktu itu diijinkan, sehingga lama-kelamaan sapi-sapi
itu berkurang dan habis sama sekali pada sekitar tahun 1960-an.
Pada
abad-abad permulaan masehi penduduk di pradesa Sabuni, Belong dan
Lumpadang tersebut diatas mohon bantuan Ida Gede sebutan Beliau oleh
penduduk saat itu untuk bisa menyalurkan air sungai yang pada waktu itu
mengalir ke desa sebelah Timur. ( Desa Perasi sekarang ) untuk mengairi
ladang mereka.
Ida Gede lalu melakukan Yoga-Semadi untuk memohon
kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yaitu Bethara yang berstana di Gunung
Agung. Maka atas Yoga Beliau itu timbulah gempa besar dari puncak Gunung
Agung keluar api sangat besar disertai guntur dan kilat. Api Gunung
Agung ini lalu mengalir ke bawah dan menutup aliran sungai yang menuju
ke timur dan aliran sungai lalu berubah ke selatan di sebelah timur
Bukit Gumang. Akibat aliran lahar yang dibawa dari muntahan Gunung Agung
sepanjang aliran sungai itu berlumpur dan becek serta berbau busuk.
Itulah sebabnya sungai itu disebut Sungai Buhu ( Tukad Buhu).
Setelah
ada aliran sungai, daerah di sekitarnya sabuni, belong dan Lumpadang
menjadi sangat subur.kemudian para penduduk berkumpul dan mohon petunjuk
Ida Gede untuk membuat sawah karena air sudah bisa mengalir
ketempatnya. Ida Gede memberi petunjuk agar Hutan Pahang disebelah timur
sungai dan tanah-tanah di Lumpadang dan Sabuni serta Belong dibuat
berpetak-petak dan tiap petak luasnya : ayahan 100 (+10 are ) ayahan 200
(+20 are ), ayahan 300 (+30 are )
Dan ayahan 400 ( + 40 are
).kemudian semua sawah dibagi-bagikan kepada masing-masing keluarga yang
pada waktu itu jumlah semua keluarga baru 120 KK.( Krama Desa Ngarep ;
112 Ayah Krama, 8 Ayah Luput = pemimpin krama ) sawah ini disebut sawah
Uma Desa atau Carik Madesa yang kemudian dikenal dengan sawah AYDS (
Ayahan Desa ) yaitu siapapun nantinya menguasai atau memiliki tanah itu
dia wajib menanggung ayahayahan Desa, seperti:urunan, papesuan, ngayah
krama, ngayah orak, ngayah daha dan ngayah taruna, serta keperluan
aci-aci lainnya.
Kemudian para penggarap dikumpulkan dan dibentuk
sekaa untuk mengurus air di sawah, maka timbulah organisasi air yang
disebut "Sayan" (sekarang di sebut Subak). Ada Sayan "Tegakin" (pada
sawah tempat atau tegak desa semula), Sayan Lumpadang, Sayan Umapahang
(dibekas hutan pahang) dan sekitarnya.
Kemudian sungai yang mengalir
ini, karena di musim hujan sering banjir dan tidak adanya jembatan
sering merupakan hambatan bagi yang ingin menguburkan mayat karena
kuburan terletak di seberang Timur Sungai malah banjirnya sering
beberapa hari belum reda, oleh karenanya beberapa penduduk ingin pindah
bertempat tinggal ke sebelah timur sungai. Dan tempat pertama yang di
pilih adalah : disebelah Timur Bukit Dukuh bagian selatan yang sekarang
disebut Pangiu (Panyumu - Permulaan). Sebelah Timur Pangiu masih
rawa-rawa, yang kemudian ditimbun berdikit-dikit untuk memperluas tempat
pemukiman penduduk. Dan lama-kelamaan tempat rawa yang becek ini
berhasil dikeringkan dan dibangun sebuah Desa Pekraman yang disebut desa
Bugbug (berasal dari Buu-buug = Becek/Rawa).
Atas jasa-jasa Ida
Gede, maka segenap anggota Krama Desa ingin menunjukan rasa bakti dan
terima kasihnya pada Ida Gede. Akhirnya semua mereka datang menghadap
Ida Gede di Bukit Gumang. Dan disini terjadi permusyawaratan atau
paiguman (dari sini asal nama Gumang = Paiguman). lsi keputusan
musyawarah ialah semua krama desa menyatakan Baktinya terhadap Ida Gede
dan sampai dengan keturunannya dikemudian hari akan tetap bakti dan
menyungsung Ida Gede.Untuk menyatakan secara rill rasa Bakti tersebut
tiap anak yang lahir balk laki maupun perempuan akan di buatkan "Aturan
Pemintonan" pada saat Usaba Gede di Pura Gumang.
Hal Kisah Mengenai
Ida Gede dengan istrinya berputra 4 orang, yaitu yang paling tua
laki-laki bernama Ida Bethara Gede Manik, yang kedua Bethari Ayu Made,
yang ketiga juga wanita bernama Bethari Ayu Nyoman Aan yang paling kecil
wanita bernama Bethari Ayu Ketut. Bethari Ayu Made kawin dengan Bethara
Gede Puseh dari Desa Bebandem dan berstana di Pura Desa Bebandem.
Sebenarnya
Bethara Gede Puseh mencintai Putri ketiga yang bernama Bethari Ayu
Nyoman, tetapi Bethari Ayu Nyoman kawin ke Jasri dengan Bethara Gede
Pasisi, karena Bethari Ayu Nyoman lebih mencintai Bethara Gede Pasisi.
Agar Bethara Gede Puseh di Bebandem tidak kecewa maka Beliau di kawinkan
dengan Bethari Ayu Made. Dan Bethari Ayu Made mau kawin dengan Bathara
Gede Puseh apabila Kakak Beliau yaitu Bethara Gede Manik mau menunggui
Beliau dan menetap tinggal di Bebandem. Itulah sebabnya putra pertama
Bethara Gede Gumang tetap berstana di Pura Puseh Bebandem. Adapun Putri
bungsu yang juga wanita bernama Bethari Ayu Ketut kawin ke Desa Ngis
dengan Bethara Gede Dangin.
Kemudian karena semua Putra-Putri Bethara
Gede Gumang sudah semua pergi, maka sunyilah di Pesraman Gumang. Dan
Bethara Gede Gumang beserta Istri Beliau karena merasa tugas-tugas
Beliau sudah selesai, maka Beliau bermaksud menuju Sunya Loka (Moksah)
dan hal ini di ketahui oleh beberapa Penduduk. Penduduk ingin menuju ke
tempat Ida Bethara Gede Gumang dan Istri beryoga, tetapi Bethara Gede
melarang mendekat. Karena Penduduk tidak mau pergi maka Bethara Gede
Gumang membelah Ujung Tenggara Bukit Juru dan Beliau duduk di atas
belahan bukit itu berlayar menuju ketengah samudra dan akhirnya moksah
ditengah laut pada gili kecil itu yang di sebut "Gili Biaha" (Pecahan
Bukit Gumang).
Sebelum Beliau moksah Beliau sempat bersabda yang
berupa pesan yang isinya : "WAHAI KAMU ORANG-ORANG BUGBUG DAN
ORANG-ORANG YANG BERBAKTI KEPADAKU DIMANAPUN KAMU BERADA,APABILA KAMU
INGIN PERTOLONGANKU,PANGGILLAH NAMAKU" Disamping itu Beliau juga
memprelina pengikut Beliau yang setia menjadi Wong Samar atau Wong
Sumedang. Demikian cerita orang-orang tua mengenai Ida Bethara Gede
Gumang, yang juga di sebut Ida Bethara Gede Mas Manik Kecatur atau juga
di Desa Bebandem di kenal dengan nama Ida Bethara Gede Lumbang, ada Pula
Lontar lain menyebut nama Beliau Bethara Gede Manik Andrawang. Mengenai
Desa Bugbug selanjutnya, karena kesuburannya banyaklah pendatang barn
yang ingin mencari Mata Pencaharian dan menetap di Desa Bugbug. Mereka
yang datang dari berbagai sekte dan kasta. Ada Brahmana, Kesatriya,
Wesia maupun Sudra. Seperti misalnya pernah keluarga Brahmana tinggal di
Desa Bugbug, tetapi sekarang tak ada lagi, hanya lingkungan bekas
tempat tinggal Beliau itu hingga sekarang masih ada bernama Banjar Adat
Garia.
Karena adanya perbedaan kasta ini timbulah pertentangan dan kekacauan yang bersumber dari masalah kasta.
Akhirnya
untuk meredakan dan mengamankan suasana masyarakat di Desa Bugbug, Ida
Dalem Raja Klungkung ( Bali ) mengirim Seorang Bendesa dari Keluarga
Seorang Bendesa Mas untuk menjadi Kepala di Desa Bugbug. Hal ini terjadi
sekitar tahun 1686 M.
Bendesa ini oleh Raja tidak di berikan bukti
berupa tanah atau harta bends lainya, tetapi kepadanya diberikan
beberapa orang pembantu yang akan membantu mengatur dan mengamankan
Masyarakat. Dan Raja menyerahkan sepenuhnya Rakyat Desa Bugbug kepada
Bendesa tersebut.
Tindakan Jero Bendesa setelah menyelidiki dan
mengatur penyebab keributan adalah masalah "Kasta" maka Beliau ingin
menghapuskan masalah Kasta ini dengan meminta agar semua keluarga yang
menetap di Desa Bugbug menyerahkan prasasti keluarganya kepada Jero
Bendesa. Dan setelah prasasti semua terkumpul Jero Bendesa mengumpulkan
seluruh Kepala Keluarga (Krama) dan menanyai mereka apakah mau aman atau
kacau Desa ini. Masyarakat menjawab mau aman tentram. Kalau mau aman
apakah kalian setuju semua prasasti ini di bakar dan semua kalian
kedudukanya sama di Desa ini, Masyarakat menjawab setuju. Dan sejak
itulah atas kebijaksanaan Jero Bendesa yang berwibawa dan kharismatik
itu di Desa Bugbug ini tidak ada lagi Golongan Tri Wangsa dan semua
sama. Hanya Kepada Jero Bendesa rakyat tetap memberikan penghormatan
dengan panggilan " Jero " atau " Jero Mekel ".